twitter


Entry ini khusus untuk mengucapkan SELAMAT ULANG TAHUN untukmu yg sedang berulang tahun. Bahkan, aku tidak pernah tahu entry ini akan terbaca olehmu atau tidak. Ah, itu tidak penting. Yang penting, aku ingat bahwa hari ini hari spesial bagimu. Tidak tahu apa yang membuat jemari ini seolah ingin menari mengetikkan per kata hanya untuk mengucapkan kata sederhana itu, “SELAMAT ULANG TAHUN”. Terlalu sedikit ruang yang tersedia jika doa-doa itu harus kuuraikan dengan panjang lebar di sini. Namun, tentu saja akan kutuliskan beberapa yang ingin kupinta sebagaimana doa-doa indah yang dilantunkan Anis Matta.



Ya Allah, di hari yang mulia ini,
di usianya yang berbilang 22 tahun, kumohon berkahilah umurnya

Ya Allah berilah ia kesabaran di saat tak ada solusi bagi seluruh masalah dan tantangan hidupnya kecuali hanya kesabaran..

Ya Allah teguhkanlah ia dengan kalimat peneguh dariMu..dalam kehidupan dunia maupun di akhirat kelak..

Ya Allah penuhilah hatinya dengan keyakinan di saat semua manusia meremehkan agamaMu dan meragukan janji-janjiMu..

Ya Allah berilah ia keberanian di saat ketakutan pada musuh-musuhMu dan kepengecutan melanda hati manusia..

Ya Allah berikan ia tekad dan kekuatan untuk tetap berada di jalan kebenaran..dan ilhamilah ia melakukan semua kebaikan yg Engkau sukai..

Ya Allah turunkanlah ketenangan dan ketegaran dalam hatinya pada setiap cobaan dan goncangan yang merintangi jalan perjuangannya...

Ya Allah bersihkan hatinya dari segala bentuk kemunafikan... riya... keangkuhan... Penuhilah hatinya dgn keikhlasan, kejujuran dan kerendahan hati...

Ya Allah jadikanlah amal-amalnya ikhlas hanya untukMu,benar sesuai tuntunan NabiMu, bermanfaat bagi kaum muslimin dan seluruh manusia..

Ya Allah ilhami ia ketepatan dalam melaksanakan kebenaran,
ilhami ia ketepatan dalam mengambil keputusan,jauhkan ia dari fitnah dan syubhat

Ya Allah sempurnakan segala kekurangan pada setiap amal yang dilakukannya..dan tutuplah seluruh aibnya yg ia ketahui dan tidak diketahuinya...

Ya Allah, ajari ia tuk dapat menjawab tiga pertanyaan kelak
tentang masa mudanya, untuk apa dihabiskan
tentang ilmunya, untuk apa dimanfaatkan
tentang hartanya, dari mana dan untuk apa dihabiskan

Ya Rahman,
Sadarkan ia untuk berterima kasih kepada ibunya, perempuan yang telah melahirkannya 22 tahun silam
Ajarkan ia untuk bisa berterima kasih
Atas kesempatan yang membuatnya bertumbuh
Atas kesulitan yang membuatnya dewasa

Ya Rabb ampunilah ia...
Jika banyak yang tersakiti lewat lisannya
Ampuni Ya Ghoffar...
Jika banyak yang terzalimi karena kealpaannya

Ya Rabb, di bulanmu yang mulia...
Jadikanlah 22 tahunnya sebagai
Tahun kebahagiaan
Tahun kebangkitan
Tahun perbaikan diri tanpa henti
Tahun berkarya dan mengabdi tuk Ilahi
Tahun pemberdayaan diri dan generasi

Ya Allah jika ada kebaikan yang luput dalam doa-doaku untuknya maka berikanlah kebaikan itu padanya, jika ada keburukan yang lupa kuperlindungkan padaMu untuknya maka jauhkan ia dr keburukan itu


Untukmu yang sedang berulang tahun,
Semoga semua mimpi yang pernah kau ceritakan itu dapat terwujud
Semoga semua cita-cita muliamu juga dapat terkabulkan
Allah akan berikan apa Ia kehendaki buatmu
Ia saja yang akan membayar perjuanganmu
Ia tahu bagaimana usahamu dalam mengejar mimpi merengkuh cita tentang peradaban dunia yang dinanti umat manusia
Ya,,,
Kita sudah mencoba menyusun skenario peradaban itu
Tapi sekali lagi, Ia saja yang akan menilai perjuangan itu patut dibayar dengan apa

Untukmu yang berulang tahun,
Jangan pernah sudi mengalah pada masalah atau dibunuh putus asa,
Karena tak ada istirahat sampai kaki kita menapak surga


~Banda Aceh 02:33
Selasa, Mei 29, 2012 | 2 comments |
I was called by my sister (Kak Ziza, sometimes I call her Sensei. I'll tell you in the other posting why do I call her "Sensei") from Physics Department to be a guest for English Discussion in her department. The participants were Physics students. And the topic was, "Why English is Important and How to Improve Our English?" Jreng... jreng... *Such stuck a moment*. I myself still learn to improve my english, and I should tell them how to make their english is better than before. Could you imagine? *Ah... I'm just kidding. You don't have to do that (imagine) ^^ wkwkwk...
Actually, it's not my first time to be a guest for such of this event. But, I always nervous when I told them about this topic. I try to give my best. Hope can motivate them. After talking about 10 minutes, there to be continued...
Sabtu, Mei 26, 2012 | 0 comments |
I'm sorry. No more story for today. I'm focusing for the imprtant thing that I'll tell you later. See you :)
Jumat, Mei 18, 2012 | 0 comments |
Tulisan ini saya dedikasikan sebagai bentuk kritik sosial kepada Pihak Rektorat almamater tercinta, Universitas Syiah Kuala, yang sampai saat ini saya anggap belum bisa memberikan apresiasi yang sesuai bagi mahasiswa yang telah mengharumkan nama Unsyiah di tataran nasional.

Jika memang ada yang salah dari tulisan saya, mohon agar saya ditegur dan diluruskan.

7 September 2011 lalu saya dihubungi oleh pihak rektorat untuk menjadi delegasi Unsyiah pada Indonesia Leadership Camp 2011 yang diselenggarakan oleh kampus biru, UI-Depok, Jawa Barat. Kegiatan tersebut berlangsung tanggal 3-6 Oktober 2011 di Kampus UI. Sebuah acara yang menghimpun 120 mahasiswa berprestasi dari 40 universitas terbaik dari seluruh Indonesia. Ada tiga perwakilan dari setiap universitas, Unsyiah diwakili oleh Daudy Sukma dari Jur Manajemen FE (Juara I Mahasiswa Berprestasi Unsyiah 2011), Vera Halfiani dari Jur Math FMIPA (Juara III Mahasiswa Berprestasi Unsyiah 2011) dan yang terakhir saya (bukan siapa-siapa). Awalnya saya tidak tahu menahu mengapa saya yang dipilih, hingga akhirnya saya dapat pesan singkat dari seorang teman dekat (Nuril Annisa) yang mengucapkan selamat atas ditunjuknya saya.

Saya tidak mau menduga-duga hingga akhirnya saya menghubungi Nuril menanyakan bagaimana ia bisa tahu. Dan tahukah Anda, ternyata seharusnya posisi delegasi itu diberikan kepada Nuril Annisa (Mahasiswi FK yang juga Juara II Mahasiswa Berprestasi Unsyiah 2011). Namun, karena sesuatu dan lain hal, Nuril merekom nama saya (tanpa sepengetahuan saya lho) ke biro kemahasiswaan Unsyiah. Dan setelah ngobrol beberapa saat via telepon genggam, akhirnya Nuril menceritakan syarat-syarat yang harus dilengkapi oleh peserta, antara lain: mengisi CV (8 lembar), membuat lifeplan untuk 40 tahun ke depan, membuat tulisan essai dengan tema, “Nasionalisme, Otonomi Daerah, dan Tantangan Global” + slide untuk presentasi, membuat proyek sosial + slide untuk presentasi, dan penampilan budaya dari masing-masing universitas. Dan deadline semua tugas tersebut adalah tanggal 15 September 2011 (lihat tanggal pemberitahuan, jumlah tugas yang diberikan, dan deadline; kebayang kan gimana ekspresi saya setelah mendengar curhat Nuril?).

Tanggal 7 September 2011 akhirnya saya menjumpai seorang staf biro yang menghubungi saya. Saya diberikan semacam surat undangan dari UI, buku pedoman acara dan surat rekomendasi dari universitas. Setelah saya perhatikan baik-baik, pada sudut kanan atas surat tertulis tanggal “30 Juli 2011” dan tulisan “diterima di biro kemahasiswaan tanggal 24 Agustus 2011” tepat di bawahnya. Namun, isi surat undangan tertulis “daftar nama mahasiswa yang akan dikirim kami terima paling lambat pada 15 Agustus 2011”. Ada sedikit kekecewaan yang mendalam. Banyak pertanyaan yang muncul atas kejanggalan-kejanggalan yang terjadi. Bagaimana mungkin surat yang dikirim tanggal 30 Juli 2011 baru diterima tanggal 24 Agustus 2011. Gile bener, now the question is, “Mengapa kampusku selalu mengalami keterlambatan? Ada apa denganmu?”

Baiklah, saya dan teman-teman lain mau tidak mau harus menyelesaikan semua tugas-tugas tadi meskipun dalam waktu yang sangat terbatas. Di sela-sela kesibukan persiapan, kami menyempatkan diri untuk duduk dan diskusi terkait social project dan penampilan budaya. Pada buku pedoman juga dijelaskan bahwa peserta wajib mempersiapkan penampilan budaya serta pakaian daerah untuk ditampilkan pada malam kenduri kebangsaan. Dengan bermodalkan keberanian, akhirnya saya menemui salah satu staf biro untuk memberitahukan kebutuhan tersebut (yang pasti saya gak mau pake tu baju adat, masih ada Vera, hehehe... peace Ver \_/). Sungguh, jawabannya di luar dugaan. Coba tebak apa tanggapan “beliau” itu? Jika tebakan Anda, “Lusa kalian ke sini lagi untuk ambil ya”, yak... Anda mendapatkan point nol, salah Mbak Bro. Jawabannya itu, “Kalian hubungi saja panitia pusat dan bilang kalau kalian itu jauh, jadi gak usah bawa baju daerah, ya!” Saya kaget setengah mati mendengar tanggapan seperti ini. Trus yang dari Papua sono gak jauh apa. Saya tidak menyerah, tiga kali saya mengemis hal yang sama, dan hasilnya tetap sama.

Di satu sisi, saya pribadi benar-benar bingung dan heran dengan birokrasi yang sepertinya begitu sulit. Ingin punya nama, tapi tidak mau berkorban sedikit lebih. Begitulah mungkin jika saya bahasakan. Jika saja kami putus asa dengan sikap “beliau” tentu kami tidak akan berpikir panjang untuk susah-susah menyiapkan penampilan budaya. Ternyata orang-orang yang duduk “di sana” tidak salah tunjuk. Mahasiswa yang dipilih memang memiliki rasa pengertian dan kebesaran hati yang luar biasa.

Bayangkan saja, mawapres I, II, dan III dari UNY diberi kesempatan untuk studi banding ke Thailand + uang tunai sejumlah 2 juta rupiah. Lain lagi ceritanya dengan teman-teman saya di UI, juara I mawapres diberikan apresiasi uang tunai sejumlah 10 juta rupiah, juara II 9 juta rupiah dan juara III 8 juta rupiah. Tidak hanya itu, 10 finalis Mawapres UI juga dibina secara intensif selama 3 bulan untuk bisa lolos ke program ILC ini. Kembali, bayangkan ekspresi kami ketika mereka yang kami interview tanya balik kepada kami, “Lalu, bagaimana di universitas kalian? Juara I dapat berapa?” Dan lagi-lagi harus saya katakan, karena mahasiswa yang dipilih juga memang mahasiswa yang berhati besar (baca: Daudy & Vera-red), mereka masih berbaik hati mengatakan bahwa kami belum diberikan penghargaan apa-apa (sertifikat uda belom?). logikanya, jika si mahasiswa mau mengatakan, “Kami tidak diberikan apresiasi apa-apa”, sah-sah saja bukan? Toh, pernyataan belum tadi sampai sekarang juga masih belum terealisasi atau mungkin tidak akan terealisasi lagi.

Sungguh, sangat disayangkan, jika potensi-potensi unggul yang sudah diakui kapabilitasnya masih belum diberikan apresiasi yang pantas. Jika awalnya saya sempat berpikir bahwa kita harus menunjukkan dulu kapabilitas kita, harus mampu membuktikan bahwa kita bisa bersaing di kancah nasional, baru boleh berani meminta apresiasi, lalu sekarang kendala apa yang membuat para top management masih menutup mata dengan kemampuan yang sudah teruji beberapa kali dari mahasiswa yang sama dan model kompetisi yang berbeda. Apresiasi bukanlah untuk kesenangan delegasi mahasiswa yang ditunjuk untuk mewakili Unsyiah semata. Justru apresiasi yang diberikan kepada mahasiswa yang mampu mengharumkan nama almamaternya, tentu akan membuat mahasiswa lain lebih semangat untuk mengikuti berbagai ajang kompetisi bergengsi di negeri ini.

Satu lagi hal menarik yang saya peroleh dari catatan perjalanan saya di ranah nasional. Dari 5 event nasional yang pernah saya ikuti, 2 event di antaranya saya bertemu dengan orang yang sama. Artinya, secara kuantitas, kita masih sangat sedikit yang berpartisipasi (meskipun delegasi yang diutus juga tetap mampu berada di posisi juara setiap kalinya). Sedangkan universitas-universitas lain mampu mengirim delegasi berbeda untuk tiap event yang berbeda sehingga mereka mampu berpartisipasi pada hampir semua event kompetisi mahasiswa di tingkat nasional bahkan internasional. Disadari atau tidak, prestasi mahasiswa memegang peran penting pada akreditasi sebuah universitas. Jadi, jangan salahkan mahasiswa jika partisipasi mereka masih kurang. Perlu diketahui bahwa apresiasi yang diberikan oleh pihak universitas juga masih sangat kurang.

to be continued...
Minggu, Januari 01, 2012 | 0 comments |


Bismillaahirrahmanirrahiim.

Sebelum saya menulis lebih jauh, saya akan sedikit menjelaskan isi tulisan saya. Sekilas mengapa saya memilih judul di atas, tidak lain dan tidak bukan karena keputusan dan pilihan. Ya, jika saja saya memutuskan untuk tidak menjadi salah satu dari pendamping stan di pameran Taiwan Higher Education Fair, maka sudah tentu ini tulisan juga tidak akan ada. Saat memutuskan bersedia, itu berarti bahwa saya harus siap menjalani pilihan karena pilihan saya itu adalah sebuah tanggung jawab, harus saya jalani karena resiko dari keputusan saya, harus saya jalani karena bisa jadi ini adalah sarana untuk sampai pada cita-cita, dan boleh jadi karena memang hanya saya yang dituntut untuk bisa melakukannya dengan baik.



Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi penulis saat menjadi pendamping salah satu stan Taiwan Higher Education Fair. Tulisan ini tergolong bacaan yang lumayan panjang jika Anda ingin membacanya habis dalam sekali baca. Opsi yang saya tawarkan, jika Anda sibuk, silahkan Anda save terlebih dahulu ini tulisan, lalu Anda baca di rumah atau ketika Anda memiliki waktu luang. Opsi lainnya, silahkan baca HABIS sekali baca bagi Anda yang memang memiliki cukup waktu. Meskipun tulisan ini semacam curhat pribadi, namun insya Allah ada banyak hal yang bisa diambil sebagai pelajaran dalam hidup. Baiklah, selamat membaca!



DAPAT KEPERCAYAAN LAGI, ALHAMDULILLAH YA... ^^

1 Oktober 2011 lalu, tepatnya hari Sabtu, kembali digelar Taiwan Higher Education Fair (THE Fair) yang ke dua kalinya di Indonesia. Acara ini diselenggarakan oleh Komisi Beasiswa Aceh (KBA) dan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) yang berlangsung 1 hari saja dimulai pukul 09.00-16.00 WIB. THE Fair merupakan acara pameran pendidikan tinggi Taiwan yang juga menawarkan beasiswa dari berbagai universitas ternama di Bumi Formosa itu. Event terbesar ini hanya diselenggarakan di Kota Banda Aceh yang berlangsung di Gedung AAC Dayan Dawood, Yogyakarta yang berlangsung tanggal 3 Oktober 2011 di Universitas Gajah Mada, dan di Surabaya yang dilangsungkan tanggal 6 Oktober 2011 di Tunjungan Plaza. THE Fair akan menjadi agenda tahunan. Jadi, dapat dipastikan tahun depan (2012) KBA dan Unsyiah kembali akan menggelar event serupa untuk membuka lebar peluang mahasiswa Aceh yang ingin melanjutkan studi di Taiwan.



Pada teknis pelaksanaannya, THE Fair dibantu oleh mahasiswa/i Unsyiah yang diposisikan sebagai booth-companion (istilah lain untuk menyebut “pendamping atau helper atau lebih tepatnya penyambung lidah” para Taiwanese yang akan mempromosikan universitas/institusi mereka kepada pengunjung). Para booth-companion ini dipilih melalui interview bahasa inggris yang dilangsungkan di KBA. Tahun lalu, saya juga menjadi bagian dari event ini. Jadi, tidak terlalu sulit bagi saya untuk membayangkan kondisi stan atau teknis tugas yang harus saya lakukan.



Closing statement yang ingin saya sampaikan disini, jika kita bisa bekerja dengan baik, maka orang lain akan melirik dan punya pertimbangan tertentu untuk memberikan kita kepercayaan yang lebih besar.



LAST YEAR THE Fair

Sedikit tidaknya, saya teringat dengan kisah interview tahun lalu. Sister Zz bertugas interview personal & kepribadian dan sister Famel kebagian jatah untuk interview wawasan. Saya diberitahu sorenya bahwa kami akan diwawancara besok jam 10.00. Malamnya, mulailah saya menginterview Paman Google terkait semua informasi tentang Taiwan. Masih teringat jelas di benak saya ketika pertanyaan, “What do you know about Taiwan?” itu muncul dari mulut sister Famel. Alhamdulillah, saya bisa menjelaskan dengan baik. Tentang objek wisata Kenting Park, lalu beberapa hal penting lain tentang Taiwan yang akhirnya membuat saya ditempatkan sebagai booth-companion universitas nomor 2 di Taiwan, National Tsing Hua University (NTHU).



Sebenarnya, besar harapan saya untuk bisa bertemu dengan teman-teman dari NTHU di THE Fair tahun ini (meskipun dengan orang yang berbeda). Unfortunately, tahun ini mereka tidak ikut berpartisipasi. Saya berasumsi bahwa mereka tidak ikut berpartisipasi dikarenakan ketidaknyamanan tahun lalu atau mungkin pelayanan saya yang kurang maksimal. Tahun lalu, NTHU mendapatkan tempat di lantai 2 Gedung AAC & berhadapan langsung dengan sinar matahari. Juga dengan AC yang saya rasa kurang bekerja dengan baik. Panas luar biasa, Peggy dan Vicky (staf dari NTHU) mengipas diri hampir setiap saat. Hipotesis saya ini didukung oleh statement Kak zz yang juga mengalami hal yang sama saat menjadi booth-companion universitas nomor 1 di Taiwan, National Taiwan University (NTU).



Karena merasa bersalah atas pelayanan dan ketidaknyaman mereka tahun lalu, berkali-kali saya meng-email Peggy dan meminta maaf (melalui akun jejaring sosial) atas segala kekurangan. Namun, Peggy justru tidak mempermasalahkan itu. Ia berterima kasih berkali-kali atas bantuan dan kerja keras panitia.



Sebagai penutup di bagian ini, saya ingin utarakan bahwa saat kita telah mengetahui bahwa kita akan menghadapi ujian, maka pepatah yang tepat adalah, “Sedia payung sebelum hujan”. Tak perlulah saya jelaskan detail maksudnya.



THE 2ND THE FAIR

Pada THE Fair yang ke dua ini, saya dipercayakan untuk menjadi booth-companion Academia Sinica (berikutnya saya akan menyebutnya AS Academia Sinica). Academia Sinica adalah sebuah lembaga riset yang terbesar dan ternama di Taiwan (semacam LIPI-nya Taiwan-lah...). AS terletak di Taipei dan berada di sekitar universitas ternama, seperti National Taiwan university.



Saat yang paling saya suka dan senangi adalah saat menyambut tamu dan memperkenalkan diri bahwa saya yang akan membantu mereka. Kebayangkan, seru aja jumpa dengan orang yang belum kita kenal sama sekali, cari sana - cari sini. Awalnya saya bingung, karena tidak semua stan sudah tertempel namanya. Akan saya tempatkan dimana perwakilan Office Of International Affairs dari ACADEMIA SINICA nantinya. Saya memutuskan untuk berdiri di sebelah kiri pintu masuk (bagian dalam) agar bisa menemukan dengan cepat partner saya. Dan alhamdulillah, setelah sekian lama menunggu, saya tetap tidak menjumpai. Jadilah saya berkeliling mencari-cari Taiwanese yang di nametag-nya tertulis “ACADEMIA SINICA”. Aha... akhirnya saya melihat tulisan ACADEMIA SINICA yang ditulis besar dan bercetak tebal. Saya pun mengejar seorang laki-laki yang namanya saya tidak tahu siapa karena alat bantu melihat saya yang sudah lama patah & juga jarak pandang yang lumayan jauh.



Setelah mendekat, saya memperkenalkan diri beserta tugas saya. James, utusan Office Of International Affairs AS, menyambut saya dengan sangat senang. Dalam keadaan bingung, saya mengajak James ke salah satu stan yang masih belum ditempati oleh yang lain dan belum terdapat tanda-tanda kalau ini stan instansi lain. Setelah mengeluarkan beberapa properti, Taiwanese yang berada tepat di sebelah kami (dari Asia University), meminta agar James berkenan tukar posisi. Saya tidak tahu alasannya karena memang saya sama sekali tidak mengerti Mandarin. James pasrah saja, namun Taiwanese dari Asia Univ membantu James memindahkan propertinya ke stan yang satunya.



James sangat menghargai apa yang saya kerjakan, berbagai properti diizinkan saya pasang sendiri. Beberapa ide pemasangan brosur dan poster di stan ini murni ide saya, dan James mempersilahkan saya dengan senang hati untuk berkreasi sesuka saya (hehehe... yes, yes, yes). Beberapa poster memang sengaja ditempel tinggi agar dapat terlihat dari jauh. Karena tubuh saya tidak cukup tinggi, akhirnya James geleng-geleng, tertawa kecil dengan guraunya, “Let me help you. I’m higher than you” lalu datang membantu. Hasilnya, eng... ing... eng... Penuhlah stan kami dengan tempelan poster dan brosur Academia Sinica, bahkan hingga di taplak meja :D.



Ok, setelah semua properti selesai dipasang, atas instruksi dari panitia, saya meminta James masuk ke eventhall AAC untuk mengikuti Opening Ceremony. Karena saya yakin, James belum tahu pasti dimana tempatnya, saya mengantarnya hingga ke kursi dimana ia duduk di dalam eventhall. James berterima kasih berkali-kali. Saya jadi ingat dengan apa yang dikatakan dosen pembimbing saya (tepatnya dosen dari Jurusan Fisika), “Jika ada seseorang yang menanyakan alamat padamu, maka antarlah ia sampai ke tempat tujuannya, jangan hanya menunjuk jalan saja, apalagi dengan mengatakan, belok kiri, terus lurus, lalu belok kanan dst. Jika kamu telah menolongnya, maka sesungguhnya kamu telah menyelamatkan dirimu sendiri”.



Karena dari AS hanya James seorang saje yang hadir, saya memutuskan utk tetap berada di stan Academia Sinica. Khawatir, brosur akan hilang. Meskipun sebenarnya pasti gak ada yang berminat (secara, cuma stan AS yang gak nyediain souvenir, hehehe...). Setelah OC selesai, kembalilah James menemani saya yang sedari tadi sendiri saja melayani pengunjung. Karena sibuknya memaparkan informasi tentang AS, saya nyaris lupa mengingatkan James untuk lunch. Hampir setiap saat saya melihat arloji, khawatir waktu lunch sudah tiba dan saya lupa memberi tahu James. Meski tanpa souvenir, pengunjung stan AS tergolong sangat ramai. Kami yang hanya berdua saja, terkadang kelabakan melayani pertanyaan pengunjung. James sangat ramah. Tidak, bukan karena dia harus menjelaskan semua informasi dari lembaganya, namun saya melihat sifat James yang lebih dulu menegur pengunjung menjadi sangat berpengaruh pada keramaian stan (ilmu baru dari James, jangan menunggu pengunjung nyamperin kita, tetapi langsung saja tegur pengujung, kalau mereka gak mau mampir artinya mereka sombong, mau gak mau, karena gak enak sama yang negur, pengunjung pasti mampir, jadinya stan AS selalu rame sampe kami gak sempat duduk, hehehe...). Dan satu hal yang saya yakin bahwa, setiap universitas atau lembaga/institusi apapun yang ambil bagian dalan event besar tahunan itu, tentu tidak sembarang mengirim delegasi mereka. Pastilah mereka yang didatangkan itu telah lulus seleksi dan merekalah yang terbaik. Jadi, sebuah tanda tanya besar muncul di benak saya jika ada yang mengatakan mereka yang datang itu sama sekali tidak ber-attitude baik dengan helper-nya dsb. How come?



Inna ma’al ‘ushri yusra

Tiba saatnya makan siang. Saat saya mempersilahkan James makan siang duluan, dia justru mengajak saya makan bersama juga. (Mungkin kasian, lihat saya berkoar-koar dari tadi, tapi belum makan bahkan untuk minum seteguk air pun, belum sama sekali, kasian... Saya kira panitia lupa mengantarkan air ke stan saya, karena saya lihat beberapa panitia bawa kotak yang saya yakin isinya kue, dan kardus berisi botol-botol AQUA kecil. Namun, stan saya dilewati begitu saja. Mungkin karena mereka telah melihat sudah ada kotak kue dan botol air mineral yang sama di meja stan saya. Padahal itu murni milik James). Setelah menjelaskn bahwa, jika saya ikut makan, maka tidak ada yang akan memberi informasi kepada pengunjung, akhirnya James mengerti dan kembali saya mengantarnya ke ruang VIP (sebenarnya sich, memang aturan dari panitia agar booth companion mengingatkan waktu lunch mereka & kapan mereka harus kembali untuk gantian makan).



Waktu lunch untuk James sudah habis sebenarnya. Namun, saya sangat segan memanggil James untuk kembali ke booth. Teman-teman yang lain pun akhirnya menjemput saya, mengajak sholat dan makan bersama. Karena James belum kembali, maka saya tidak akan meninggalkan booth dan mempersilahkan teman-teman untuk duluan saja. Akhirnya, setelah menunggu beberapa saat, James pun kembali dan saya mohon izin untuk shalat dan makan selama 30 menit. James agak kaget, mungkin 30 menit itu kelamaan kali ya. Meskipun saya menyusul, saya sempat makan siang bareng teman-teman juga dan begitu selesai langsung kembali ke AAC. Salah satu dari teman saya bertanya mengapa saya cepat banget baliknya, tadi dia (James) kan lama? “Saya sudah janji dengan James, maksimal waktu sholat + waktu makan yang akan saya gunakan = 30 menit. Jika saya bisa lebih cepat dari itu, saya akan kembali secepatnya”, saya menanggapi.



“Hi james!” saya menyapanya di tengah kerumunan pengunjung. James agak terkejut melihat saya kembali sebelum 30 menit. “You said that you’ll be back after 30 minutes”, katanya. “That’s maximum time that I need James. If I can finish before 30 minutes, I’ll be back ASAP”, saya menanggapi. “Oh,,, thank you very much Yuyun”, balas James tersenyum.



Brosur yg tersedia di stan kami mulai habis. Hanya tinggal beberapa brosur sebagai pegangan kami untuk menjelaskan kalau-kalau masih ada pengunjung yang hadir. Krn pengunjung sudah mulai sepi, saya berbincang ringan dengan james. Tanpa ditanya saya menceritakan apa yang saya tahu tentang AS & memintanya untuk mengoreksi jika ada yang salah. Termasuk jumlah nobel, nobel apa saja, dan siapa saja peraih nobel dari AS. James tertegun. Mungkin agak terkejut. Tiba-tiba ia membungkuk dan mengambil tas jinjing kecil yang di luarnya tertulis ACADEMIA SINICA. “A thousand grateful for helping me today”, ujarnya. Tas tersebut penuh dengan berbagai souvenir. Saya dihadiahi USB 8 GB, tas jinjing dari kain, 1 DVD tentang AS, dan 1 DVD tentang TIGP (Taiwan International Graduate Program).



Saya sendiri tidak pernah menyangka akan mendapatkan souvenir dari stan yang tidak menyediakan souvenir sama sekali. Kesannya lebih istimewa sich, soalnya para pengunjung lain gak ada yang dapat, jadi gak mungkin ada yang punya souvenir sama dengan saya, hehehe... Saya juga baru tahu bahwa di Academia Sinica, bagi lulusan S1 yang lulus cumlaude, memiliki kemampuan bahasa inggris yang baik, ditunjukkan dengan nilai TOEFL yang bagus, memiliki study plan yang jelas, dan ingin melanjutkan studi S3, maka ia berkesempatan melanjutkan studi disana tanpa harus menyelesaikan master terlebih dahulu. Bayangkan, S3 tanpa harus S2 dulu, keren banget kan?

Satu kejutan lagi yang tidak pernah saya sangka, James menawarkan saya untuk mengerjakan riset Tugas Akhir saya di AS selama 2 bulan (ini bukan program internship). James serius akan membicarakan ini dengan salah satu profesor disana (James langsung mengakses internet dan menunjukkan foto sang profesor saat itu juga). Sudah 3 kali saya terima email dari James. Ia meminta agar saya segera menyelesaikan proposal saya (dalam bahasa inggris tentunya) beserta motivation statement juga recommendation sebagai berkas yang akan disampaikan kepada salah satu profesor disana. Saya sendiri, belum menjawab “iya, saya bersedia” secara pasti. Namun, saya hanya mengatakan, “Ok, I’ll try to talk to my supervisor first. I’ll inform you later. Thank you very much for the chance, James”.



Sebagai closing dari bagian ini, saya akan menyampaikan bebrapa hal yang patut kita perhatikan. Sehari bersama James, di event yang sangat bermanfaat ini, ada banyak pelajaran yang saya dapat. Pelajaran yang sangat saya rasakan secara pribadi dan juga saya tekankan untuk kita semua di sini, jika menolong, jaganlah sekali-kali mengaharapkan imbalan. Menolong karena Allah, imbalannya jauh lebih indah karena pada dasarnya ketika kita berbuat baik pada orang lain, saat itulah kita berbuat baik untuk diri kita sendiri. Lalu, berpikir positif terhadap orang lain juga sangat diperlukan. Orang-orang yang berpikir positif senantiasa akan mengeluarkan energi positif setiap saatnya. Orang yang berpikir positif akan memiliki banyak teman dan tidak akan stress karena mengganti pikiran pesimis menjadi optimis.



Saat Perpisahan

Setelah saling berbagi cerita, tanpa terasa waktu bergulir begitu cepat. Saatnya James dan Taiwanese lainnya kembali ke hotel. Besoknya, pagi-pagi mereka akan berangkat ke Yogyakarta untuk event yang sama. Setelah bantu beres-beres, saya minta izin, untuk menghampiri teman saya di Chung Hua University. Berbincang dan sempat berpose sejenak. Lalu saya kembali lagi ke stan AS.

Dan tahukah Anda apa yang terjadi? James hilang, sedih banget karena belum pamitan. Saya mencoba mencari-cari dimana James berada. Setelah berkeliling beberapa saat, saya melihatnya di pintu masuk dan langsung menghampirinya untuk pamitan sebagai bentuk salam perpisahan.



Tiba-tiba, salah satu mahasiswa (kakak angkatan) di Jurusan saya (yang juga telah menyelesaikan studi S2-nya di Taiwan) nyeletuk, “Mau diantarin sampe ke hotel ya?”. Mungkin karena memperhatikan ketika saya mendapatkan James, saya kembali berbicara kepadanya. Jujur saja, saya ingin melakukan hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah dipikirkan oleh orang lain. Sama halnya, seperti masuk surga. Kita tidak tau kebaikan mana yang akan membawa kita ke surga-Nya kelak. Begitu juga, kita tidak tahu, kebaikan kita yang mana yang akan sangat diingat oleh orang lain (itu alasannya, mudah-mudahan terjawab bagi yang bertanya).



THANKS TO THE COMMITTEES

Sadar atau tidak, THE Fair 2010 atau 2011 tidak mungkin terselenggara jika tidak ada panitia yang bekerja di belakang layar. Saya paham betul bagaimana susahnya menjadi “pemain behind the scene”. Meskipun ada beberapa booth companion yang kurang puas dengan segala prosesi jalannya pameran akbar sehari itu, harus diketahui bahwa itu hanyalah sebagian kecil dari masalah dan bisa dikatakan masalah kecil jika dibanding dengan masalah yang dihadapi oleh tim inti dalam persiapan awal. Tentu tidak mudah menjalin komunikasi dengan 28 institusi di Taiwan, bahkan lebih mungkin. Untuk itu dalam kesempatan ini, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya bagi panitia inti yang telah bekerja begitu luar biasa hingga semua planning bisa dijalankan, meski dengan kekurangan di sana-sini. Ke depan, jika memang masih mungkin dan masih diberikan kepercayaan, kita akan terus berbenah dari kekurangan-kekurangan yang pernah terjadi. Yang pasti, overall, I enjoyed my position as Academia Sinica booth companion.



Saya sadar sepenuhnya, tulisan ini masih jauh dari sempurna. Besar harapan saya tulisan ini mendapat kritik dari siapapun yang membacanya. Tolong saya diluruskan jika ada hal-hal yang kurang berkenan dalam tulisan. Kritikan dan saran yang masuk kepada saya merupakan bentuk perhatian luar biasa untuk perbaikan ke depan. Terima kasih.





Wassalam,

Khairun Amala
Rabu, November 09, 2011 | 0 comments |
Bismillah, Kali ini saya mau sharing sedikit tentang donor darah. Senin lalu (19 Oktober 2009) yang lalu, Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk donor darah. Pertama kali donor (bulan MEI 2008) saya sempat takut dengan beberapa statement teman-teman. Dan sempat tidak donor darah sampai 17 bulan lamanya. Duh, nyesel banget padahal waktu donor darah yang baik kan tiap 3 bulan sekali.

Jujur aja :p Walaupun donor darah untuk kedua kalinya, tetap saja saya belum berani melihat ketika jarum dimasukkan ke pembuluh darah. Apalagi tidak cukup satu tusukan untuk mendapatkan pembuluh darah saya yang kecil, kata petugas sich gitu...Donor darah itu ga sakit saudara-saudara. Rasanya kaya digigit semut (emang terasa ya? ) atau kalo mau ga lebay, rasanya kaya dicubit kecil + tidak sampai 2 detik. Setelah itu waktu darah mengalir, ga terasa sakit apa-apa.

Beberapa paradigma yang salah tentang Donor Darah
1. Donor darah buat badan tambah gemuk.
Hal ini tergantung dari masing-masing orang. Tergantung dari manajemen makanan dia. Buktinya saya tetep aja tuh..tetap seperti ini hehehe.. hampir tiap bulan dengan berat 45 kg... :p
2. Donor darah buat mendatangkan penyakit
Penyakit apa ya? Kalo jarum suntik, kan sekali pake. Jadi ga mungkin kita terkena penyakit lewat jarum suntik.
3. Donor darah buat tambah cantik
Wah, kok bisa? Maksudnya apa? Tapi kalo cantik hatinya tepat sekali. Karena hatinya cantik, jadilah menular ke fisik alias wajah :D So, kalo mau cantik, donor darah aja :D

Manfaat donor darah bagi kita
1. Menambah pahala. Coz life is for God and for searching ridho Allah :)
2. Bisa menolong orang lain tanpa harus tahu siapa. Btw, dulu aku punya teman yang pada waktu itu dia mau dioperasi dan dia butuh 12 kantong darah! Bayangkan aja kalo tiba-tiba waktu tu hanya ada 11 kantong darah atau persediaan habis.
3. Periksa kesehatan melalui darah gratis. Hehehe.. Coz setiap darah yang didonorkan akan dites terlebih dahulu, apakah mengandung penyakit berbahaya kaya AIDS, hepatitis dll. Kalo seandainya berbahaya, ntar kita dihubungi :p
4. Regenerasi sel darah.
5. Orang yang aktif Donor jarang terkena penyakit ringan maupun berat.
(Pengalaman di perusahaan membandingkan sebelum dan setelah adanya kegiatan donor darah tingkat yang sakit turun hampir 50% )
6. Mencegah stroke (Pria lebih rentan terkena stroke dibanding wanita karena wanita keluar darah rutin lewat menstruasi kalau pria sarana terbaik lewat donor darah aktif)

Syarat Donor Darah (yang tertera di vitamin penambah darah) :
1. Berbadan sehat
2. Berusia 17-65 tahun
3. Berat badan 45 kg
4. Tidak sedang menderita penyakit
5. Wanita : tidak sedang hamil dan menyusui
6. Jarak waktu donor darah min 3 bulan

Ada syarat tambahan yang tidak tertulis dan kita harus tahu
1. Kandungan hemoglobin dalam darah > 12,5 (CMIIW)
2. Spesial buat wanita, tidak sedang haid dan jarak setelah haid dengan waktu donor darah sebaiknya 1 minggu.

Tips dan Trik buat yang mau donor darah
- Pastikan perut terisi sebelum donor (sarapan dulu)
- Malam hari sebelum donor, tidur cukup
- Buat yang tekanan darah agak rendah,olahraga ringan sebelum donor. Tekanan darah normal 120/80. Tekanan darah 100-110 / 70-80 biasanya masi diperbolehkan donor. (Secara saya juga dianugerahi tekanan darah agak rendah :D )
- Rileks aja waktu jarum suntik uda mau masuk

Spesial Tips buat yang DONOR PERDANA
* Kalo belum pernah donor, biasanya setelah donor agak pusing. Bahkan bisa jadi pingsan. Kalo terasa pusing pada waktu donor (darah masih mengalir), segera bilang ke petugas. Setelah donor dipaksakan istirahat sebentar di tempat donor. Jangan berjalan dulu. Duduk secara perlahan.

Buat yang takut jarum
* Ga usah ngeliat seberapa besar lubang jarumnya. Percaya deh, ga sakit kok

Tips tambahan
- Baca basmallah dan niatkan untuk Allah serta sebagai sarana agar bermanfaat untuk orang lain
- Rasakan nikmat yang Allah berikan ketika darah mengalir
- Berbahagialah menjadi orang yang dapat donor darah karena itu pertanda bahwa kita diberi nikmat SEHAT

Alhamdulillah, semoga bermanfaat. :) “Dan berbahagialah orang-orang yang diberi kesempatan untuk donor darah”

Ayo, tunggu apa lagi. DOnor sekArang yuk!

Diposkan dengan perubahan seperlunya
Sumber :http://aryu.wordpress.com
Rabu, Oktober 21, 2009 | 1 comments |

Siapakah tokoh yang wajahnya menghiasi uang kertas sepuluh ribu yen? Dia adalah Fukuzawa Yukichi (1835-1901) yang lahir pada 10 Januari 1835 di Nakatsu, Oita Prefecture. Fukuzawa adalah tokoh yang memelopori modernisasi Jepang. Ia juga adalah pendiri dan rektor pertama Universitas Keio, Jepang. Universitas Keio (Keio Gijuku Daigaku) adalah perguruan tinggi tertua dan salah satu yang paling prestisius di Jepang. Universitas ini didirikan pada tahun 1859 sebagai perguruan tinggi swasta yang fokus pada studi Barat dan Fukuzawa mendirikan fakultas pertamanya pada tahun 1890.

Fukuzawa Yukichilah yang telah menyebarkan semangat keterbukaan dan menebarkan modernisasi di Jepang lewat perjuangan dan karya-karyanya dalam pendidikan. Tokoh intelektual Jepang yang akhirnya membuka mata Jepang akan adanya dunia lain selain negeri Jepang ini memang rajin membuat terobosan-terobosan untuk mengubah pandangan Jepang tentang gaijin (orang asing) dan kaigai (negeri asing).

Pada masa-masa awal restorasi Meiji Fukuzawa Yukichi mengusulkan ide yang disebut Datsu A Ron (keluar dari Asia). Target orang Jepang yang paling utama ialah “mengejar sehingga melampaui negara-negara Barat”. Dalam usaha itu Jepang mengikuti contoh negara Barat sehingga berekspansi dan menjajah negara-negara tetangga sebelum perang dunia (PD) II.

Sejak kemenangan Jepang atas Rusia dalam perang Jepang-Rusia tahun 1911, pemikiran Fukuzawa terbukti telah berhasil mengangkat pamor militer Jepang di dunia sekaligus membuktikan bahwa orang yang berkulit kuning (Asia) mampu mengalahkan orang berkulit putih (Eropa). Kemenangan Jepang atas Rusia ini juga berpengaruh pada kebangkitan bangsa-bangsa di benua Asia-Afrika.

Meskipun letaknya di lingkungan Asia, Jepang selalu berusaha mengabungkan diri dengan bangsa Barat. Ide Fukuzawa ini dipakai oleh pemerintahan militer Jepang yang bermaksud membangun “Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya”. Bangsa Jepang tetap berada di pihak negara-negara Barat.

Fukuzawa Yukichi, juga orang Jepang yang memiliki gagasan cemerlang. Gagasan yang terkenal tercetus dalam bukunya yang berjudul “Gakumon no Susume”. Pada bagian pendahuluan buku tersebut, Fukuzawa menuliskan “Sebagai jalan yang paling ampuh untuk mencapai tujuan negara adalah melalui pendidikan sebab Tuhan tidak menempatkan manusia yang lain”. Kenyataannya dalam masyarakat memang ada orang yang berkedudukan lebih tinggi dan ada pula yang berkedudukan lebih rendah. Perbedaan ini disebabkan karena yang berkedudukan tinggi telah mementingkan pendidikan, sedangkan yang rendah sebaliknya”.

Buku yang berjudul “Gakumon no susume” ini pada tahun 1882 telah terjual 600.000 naskah. Buku ini antara lain menyatakan: 。ーManusia tidak dilahirkan mulia atau hina, kaya atau miskin, tetapi dilahirkan sama dengan yang lain. Siapa yang gigih belajar dan menguasai ilmu dengan baik akan menjadi mulia dan kaya, tetapi mereka yang jahil akan menjadi papa dan hina.。ア

Sejak zaman restorasi Meiji inilah Jepang telah menempatkan ilmu dan pendidikan dalam posisi penting (1860-an-1880-an). Pada akhir 1888, dikatakan, terdapat sekitar 30.000 pelajar yang belajar pada 90 buah sekolah swasta di Tokyo. Sekitar 80 persennya berasal dari luar kota. Pelajar miskin diberi beasiswa. Sebagian mereka bekerja paroh waktu sebagai pembantu rumah tangga. Namun mereka bangga dan memegang slogan: “Jangan menghina kami, kelak kami mungkin menjadi menteri!” Para pelajar disajikan kisah-kisah kejayaan individu di Barat dan Timur.

Murid setia Fukuzawa Yukichi, namanya Hayashi Yuteki, kemudian membantu sang guru dengan mendirikan perusahaan Maruya Shosha di Yokohama yang sekarang terkenal dengan sebutan Maruzen, toko buku terbesar dan terluas cabangnya di seluruh negeri Sakura (dari berbagai sumber).

Tokoh seperti Fukuzawa Yukichi ini di Indonesia mungkin bisa disetarakan dengan Ki Hajar Dewantoro yang mendirikan “Taman Siswa” dan mendapat gelar bapak Pendidikan Nasional. Sayangnya pemikiran pemikiran Ki Hajar Dewantoro kelihatannya tidak berbekas di hati masyarakat Indonesia dan para peminpin bangsa kita, sehingga mutu pendidikan nasoinal kita masih tetap ketinggalan. Masih banyak rakyat Indonesia yang belum bisa menikmati bangku sekolah, para guru banyak yang mogok mengajar karena gaji kecil, anggaran pendidikan masih jauh dari standard dan berbagai masalah yang rumit yang dihadapi dunia pendidikan kita. Jangan harap kita mampu mengejar ketinggalan dari negara lain kalau masalah pendidikan di Indonesia belum beres.

Semoga tulisan ini bermamfaat dan membuka hati para pemimpin dan rakyat Indonesia akan pentingnya pendidikan bukan saja untuk individu tetapi juga untuk membangun sebuah negara yang besar dan disegani oleh bangsa lain. Semoga..,


Sabtu, Oktober 17, 2009 | 0 comments |